Kepercayaaan larangan keluar pada waktu Magrib
Sugeng rawuh wonten Kejawencom. Kepercayaaan larangan keluar pada waktu Magrib bagi orang jawa menjadi salah satu warisan yang di wariskan secara turun-temurun. Seperti yang kita ketahui waktu magrib adalah waktu peralihan waktu dari sore menjadi malam. Waktu tersebut digunakan oleh umat islam untuk menjalankan sholat magrib. Dalam bahasa jawa waktu peralihan ini disebut dengan surup.
![]() |
| https://www.flickr.com/ |
Pada masa lampau banyak yang beranggapan pada waktu Magrib banyak maklhuk astral yang berkeliaran. Salah satu makhluk ini dikenal dengan wewe gombel. Makhluk ini sering menculik anak kecil, sehingga banyak orang tua yang menyuruh anaknya masuk rumah saat waktu tersebut.
Larangan dan kepercayaan ini di wariskan turun-temurun dari generasi ke generasi berikutnya. Banyak generasi milenial yang beranggapan bahwasnya hal-hal tersebut hanyalah sekedar mitos dari orang tua jaman dahulu yang kolot. Namun, pada kenyataanya dalam agama islam hal ini juga ada dalam hadis Nabi besar Muhamad Saw.
Berikut ini kejawencom akan membahas dari dua sudut pandang untuk mengungkapkan bahwasanya Kepercayaaan larangan keluar pada waktu Magrib itu mitos atau fakta. Namun pilihan untuk percaya atau pun tidak percaya akan saya kembalikan kepada pribadi masing-masing.
Dipandang dari segi agama.
Dalam suatu hadist Rasulullah pernah bersabda;
Jika malam datang menjelang, atau kalian berada di sore hari, maka tahanlah anak-anak kalian, karena sesungguhnya ketika itu setan sedang bertebaran. Jika telah berlalu sesaat dari waktu malam, maka lepaskan mereka. Tutuplah pintu dan berdzikirlah kepada Allah, karena sesungguhnya setan tidak dapat membuka pintu yang tertutup. Tutup pula wadah minuman dan makanan kalian dan berdzikirlah kepada Allah, walaupun dengan sekedar meletakkan sesuatu di atasnya, matikanlah lampu-lampu kalian!" (HR. Bukhari, no. 3280, Muslim, no. 2012)
Dipandang dari segi ilmu pengetahuan.
Bila mana di pandang dari segi ilmu pengetahuan Kepercayaaan larangan keluar pada waktu Magrib mempunyai alasan sebagai berikut. Bahwasanya setiap spektrum warna mempunyai jumlai nilai frekuensi atau panjang gelombang yang beragam.
Sedangkan setiap makhluk hidup mempunyai frekuensinya sendiri-sendiri. Pada saat pergantian waktu sore menjadi malam atau istilah jawanya surup, cahaya matahari mengalami perubahan warna. Dimana perubahan warna disaat terbenamnya matahari ini di percaya selaras dengan getaran frekuensi makhluk astral. Sehingga di percaya pada waktu Magrib kekuatan mereka menjadi berlipat.
Entah ini menjadi mitos atau fakta, kembali kepada kepercayaan pribadi masing-masing. Mesti kita hidup di masa dimana dinamika kehidupan semakin dinamis, kita juga harus belajar tentang Agama dan kepercayaan. Agama adalah suatu ajaran yang di ajarkan Para Nabi melalui kitab suci. Sedangkan kepercayaan kejawen di ajarkan oleh para leluhur kita melalui gatuk tular (bertemu di tulari informasi) atau dapat diartikan dari mulut ke mulut yang di dasarkan oleh pengalaman mereka dalam menjalani kehidupan.
Semoga tulisan saya memberi manfaat. Bila mana ada salah kata saya mohon maaf dan silahkan tulis komentar bila mana ada kata dan kalimat yang perlu saya koreksi. Terimakasih.

Posting Komentar untuk "Kepercayaaan larangan keluar pada waktu Magrib"